Sejarah dan Perkembangan Batik

  Pada awalnya, batik tulis hanya dikerjakan oleh putri-putri keraton sebagai pengisi waktu luang. kemudian itu menyebarjuga kepada abdi dalem atau orang-orang yang dekat dengan keluarga keraton.

  Batik sebagai salah satu karya seni budaya bangsa Indonesia telah mengalami perkembangan seiring dengan perjalanan waktu. Perkembangan yang terjadi membuktikan bahwa batik sangat dinamis dapat menyesuaikan dirinya baik dalam dinamis ruang, waktu, dan bentuk. dimensi ruang adalah dimensi yang berkaitan dengan wilayah persebaran batik di Nusantara yang akhirnya menghasilkan gaya kedaerahan, misalnya batik Jambi, batik Bengkulu, batik Yogyakarta, batik Pekalongan. Dimensi waktu adalah dimensi yang berkaitan dengan perkembangan darimasalalu sampai sekarang, Sedangkan dimensi bentuk terispirasi dan diilhami oleh motif-motif tradisional sehinga terciptalah motif-motif yang indah tanpa kehilangan makna filosofinya, misalnya Sekar Jagat, Udan Liris dan Tambal.

  Pada waktu batik tradisional diciptakan tidak lepas dari pengaruh adat istiadat, kebudayaan daerah maupun pendatang, kepercayaan serta budaya dalam agama. Pengaruh budaya Hindu terlihat pada motif meru, sawung, gurda dan semen yang merupakan simbol-simbol dalam kepercayaan Hindu. Pengaruh budaya islam terlihat adanya perubahan, di mana tidak ada bentuk binatang dan lambang dewa-dewa. Meskipun unsur simbolisme jaman Hindu tetap ada tetapi sudah distilir sehinga menjadi unsur dekoratif. Pengaruh Tionghoa, batik dengan motif Lok Chan dan Encim. Pengaruh dari India debgan motif Cinde, Belanda dengan motif Buketan dan Jepang dengan motif Hokokai. Sedangkan pengaruh adat terlihat pada batik tulis Irian Jaya dengan ragam hias suku Asmat. Pengaruh adat juga terlihat pada batik Kalimantan Timur dengan lambang ragam hias perdamaian suku Dayak Bahua dan ragam hias Tongkonan Toraja, Sulawesi Selatan.

  Berbicara masalah batik klasik dan tradisional tidak lepas dari makna simbolik. Menurut Ernast Cassirer, manusia adalah animal symbolicum, makna yang dapat mengerti dan mengunakan simbol-simbol (tanda-tanda). Manusia juga dapat menciptakan dan memahami makna dari simbol-simbol itu sehinga dapat dipakai sebagai norma, penuntun (petunjuk) ke arah tingkah laku dan perbuatan yang baik.

 Batik sebagai karya seni, mengandung makna filosofi yang menarik untuk di teliti baik dari segi prises, motif, warna, ornamen, fungsi dan nilai dari sehelai batik yang sarat akan kandungan makna simbolik.

  Berbicara masalah proses pembuatan sehelai kain batik klasik/tradisional melalui suatu rangkaian yang panjang mulai dari membatik sampai dengan mbakar. Berbeda dengan batik cap dan printing.

  Pada pokoknya batik terdiri dari empat macam, yaitu:
1.Ceplok, misalnya Kawung, ceplok Magis dan ceplok Mendut.
2.Garis miring, misalnya motif Parang, udan Liris, dan Rujak Senthe.
3.Geometris, misalnya Truntum, Grompol, dan Tirtatejo.
4.Semen, misalnya Semen Rama, semen Condro, Sido Mukti, dan Sido Luhur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar